Reading Time: 5 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
zambia2

Rooang.com | Arsitek Jepang, Mikiko Endo, berkolaborasi dengan organisasi non-profit JOICFP (Japan Organization for International Cooperation in Family Planning) merancang dan membangun rumah tunggu bersalin di Zambia, Afrika Selatan. Berlokasi di kawasan pertanian pedesaan, bangunan yang Ia rancang menyediakan tempat bagi para perempuan untuk tinggal selama akhir kehamilan mereka dan menerima pelayanan kesehatan hingga menuju proses kelahiran yang aman. Redaksi Rooang mengulas kembali cerita di balik pengalaman menarik sang Arsitek dalam kegiatan sosial yang Ia lakukan, mulai dari proses perencanaannya hingga seleseinya proyek, pada wawancaranya bersama Yuna Yagi dari japan-architects.com.

(Baca juga : Mari Berkunjung ke Maternity Waiting House di Zambia)

 Maternityhouse1

Image credit

YY (Yuna Yagi) : Apa konsep dasar di balik proyek ini?

(ME) Mikiko Endo : “Seandainya saja seni dan desain bisa melayani masyarakat pada titik dimana mereka (seni dan desain .red) dapat mengurangi angka kematian yang tidak perlu!” Itulah sikap yang melatarbelakangi saya untuk bergabung dalam proyek ini. Di pedesaan Zambia, perempuan sering melahirkan di rumah mereka sendiri, karena rumah bersalin terletak jauh dari desa mereka. Banyak wanita meninggal saat melahirkan karena kondisi sanitasi yang buruk dan praktek melahirkan yang sangat tradisionil.

Rumah tunggu bersalin ini, dibangun di sebelah rumah bersalin. Rumah tunggu bersalin menyediakan rumah bagi perempuan untuk tinggal menjelang akhir kehamilan mereka dan menunggu melahirkan dengan tanpa rasa takut tidak dapat mendapatkan pelayanan yang memadai.

Dalam rangka membangun rumah murah dan cepat, kita terbiasa menggunakan kontainer sebagai media pengiriman, yang semula digunakan untuk mengirim bantuan dari Jepang. Namun saya tahu bahwa banyak proyek bantuan luar negeri, yang serupa, gagal (tidak berkelanjutan). Ini disebabkan masyarakat setempat tidak familiar dengan struktur fisik yang semacam ini, mereka merasa asing.

Maka, tantangan saya adalah merancang sebuah struktur fisik yang cukup menarik untuk membuat warga setempat tidak merasa asing yang akhirnya menarik perhatian mereka, dan membuat mereka berpikir, “Hei, saya ingin tinggal di tempat ini dan melahirkan dengan aman”- serta juga membangun minat relawan dan donatur perusahaan maupun individu dari Jepang untuk berpikir, “Ini seperti sebuah proyek besar, saya pasti akan mendukung proyek-proyek serupa di masa mendatang”.

Sehingga, masalah memotivasi orang di kedua negara untuk bertindak. Solusi saya adalah untuk mengumpulkan 100 warga setempat untuk berpartisipasi dalam sebuah lokakarya dimana kita menghias rumah tunggu bersalin tersebut dengan motif berbentuk daun dan nama-nama 100 donatur Jepang. Relawan dari masyarakat setempat mengumpulkan daun yang mereka sukai dari halaman sekitar mereka untuk membuat pattern pada dinding kontainer.

YY : Bagaimana Anda bisa terlibat dengan proyek?

ME : Pada tahun 2008 saya mengetahui tentang JOICFP, sebuah LSM internasional yang mempromosikan kesehatan ibu-anak. Saat itu kami melakukan perjalanan ke Zambia untuk mengetahui tentang masalah AIDS pada wilayah itu. Orang yang saya temui disana begitu menghargai kehidupan, hidup mereka berakar pada kekuatan luar biasa dari alam. Lalu saya berpikir bahwa hidup saya di Jepang sangat urban, hingga saya merasa telah berhenti berkembang dan menuju kemerosotan.

Disana, rumah-rumah terbuat dari hasil bumi lokal. Mereka memanggang batu bata sendiri, atap jerami mereka kumpulkan dari padang rumput di sekitarnya. Harmonisasi mereka terlalu indah untuk diungkapkan ke dalam kata-kata. Sebaliknya, desain yang kita temukan di seluruh kota dan perdebatan arsitektur kita saat ini, menurut saya sangat tidak signifikan. Maka, apa yang bisa saya tawarkan sebagai arsitek?

Dari pertanyaan itu, saya jadi menyadari bahwa tidak peduli perbedaan tingkat pembangunan, sistem ekonomi atau budaya, seharusnya kita selalu berpikir, “Aku menyukai hidup ini!” Dari situ saya mulai berpikir bahwa jika saya sebagai seorang arsitek, apa yang bisa saya lakukan? Saya menyadari bahwa pekerjaan saya di Jepang, dengan struktur masyarakat yang komersial, ide dan desain saya bisa menarik orang-orang dan juga akan sangat berguna untuk merancang fasilitas yang sangat dibutuhkan di Zambia.

YY : Apakah ada perbedaan antara proyek yang awalnya Anda pahami dengan struktur yang benar-benar dibangun? Apa saja tantangan yang Anda hadapi serta solusi inovatifnya?

ME : Pada awalnya, ada bias pemahaman antara apa yang donatur Jepang bayangkan dengan keinginan masyarakat di Zambia. Dalam memperoleh dukungan untuk proyek amal di Jepang, penggunaan kembali (reuse) -berkaitan dengan ini kontainer- adalah unsur yang diperlukan sebagai narasi keberlanjutan yang dibuat serta menggambarkan kontribusi positif dari CSR (Corporate Social Responsibility). Namun dalam masyarakat setempat, konsep reuse sebagai hal yang positif belum muncul. Dan, saya juga menghadapi perlawanan yang ekstrim karena masyarakat memiliki citra yang sangat negatif dari penggunaan kembali suatu barang, baik dari segi keamanan, fungsi, dan penampilan. Setelah saya bertemu dengan orang-orang lokal, mendengarkan keprihatinan mereka, menjelaskan konsep, dan menunjukkan mereka model yang menarik dan gambar dari struktur yang direncanakan, saya bersyukur mereka dengan cepat berubah pikiran dan setuju untuk usulan tersebut.

YY : Bagaimanakah persamaan atau perbedaan dari proyek ini dengan proyek-proyek Anda sebelumnya ?

ME : Perbedaan yang terbesar dalam proyek ini adalah saya bekerja dengan dua pihak yang berada di belahan dunia yang berbeda. Di Jepang ada Uniqlo, Cath Kidston, Ai Tominaga (organisasi kemanusiaan), dan donatur individu. Di Zambia saya harus bekerja dengan pihak klinik, departemen kesehatan, dan para relawan lokal. Tiap pihak tersebut punya perbedaan perspektif kultural dan perbedaan pemikiran dari apa yang mereka inginkan. Alih-alih menyiapkan solusi desain untuk sekelompok orang tertentu seperti yang saya lakukan di proyek-proyek sebelumnya, saya mencoba solusi sederhana dengan rencana terbuka dimana seluruh masyarakat dapat memahami dan menerimanya. Saya juga sempat khawatir dalam memimpin workshop dengan masyarakat yang bahasa, agama, dan budayanya sangat berbeda dengan saya. Namun akhirnya, para partisipan malah mengajari saya bahwa tawa, lagu, dan tarian adalah bahasa universal di seluruh dunia.

YY : Nilai apakah yang Anda tonjolkan atau bagian mana yang paling Anda utamakan pada proyek ini?

ME : Akankah mereka yang terlibat dengan proyek saya, tersenyum dari lubuk hatinya yang terdalam ketika mereka berada di sana (rumah tunggu bersalin) ? Seberapa besar dampak dari rumah yang saya desain terhadap kualitas kehidupan mereka? Apakah struktur yang saya bangun dapat membuat lingkungan mereka terlihat lebih indah dan ramah lingkungan?

YY : Bagaimana proyek ini sesuai dengan tren arsitektur saat ini?

ME : Ini bukan semacam proyek yang pemerintah atau perusahaan swasta memiliki anggaran tertentu sehingga seseorang memilih seorang arsitek untuk membangun, melainkan kasus dimana orang-orang mengatakan, “Bukankah akan lebih baik jika kita memiliki tempat seperti ini?”. Banyak arsitek dan LSM mengembangkan ide berdasarkan kebutuhan itu, dan akhirnya terlaksanalah proyek ini melalui gabungan usaha dan pikiran positif dari semua orang yang sepakat bahwa ide tersebut merupakan ide terbaik. Hal itu terlaksana berkat Uniqlo, Cath Kidston, Ai Tominaga, para donatur, serta 100 orang relawan di lapangan yang datang bersama-sama untuk satu tujuan yang sama. Bagi saya, rumah ini bukan hanya kotak tak bernyawa, melainkan sebuah struktur yang penuh dengan harapan dari semua orang yang terlibat dalam pembangunannya, serta penuh dengan keindahan tak terlihat yang berkontribusi pada keberhasilan dan kesuksesan rumah ini pada tahun-tahun yang akan datang.

YY : Apa yang Anda pelajari dari proyek ini? Apa yang akan Anda bawa untuk proyek-proyek di masa depan?

ME : Ketika proyek ini telah benar-benar selesai dan kami mengadakan upacara pembukaannya, 100 orang yang telah membantu menghias, berparade mengitari rumah tunggu bersalin ini seraya bernyanyi dan menari. Suara-suara yang bergema melalui ruang kecil adalah hal yang paling indah yang pernah saya dengar. Air mata saya masih menetes ketika mengingat hal itu. Saya ingin terus menciptakan arsitektur yang berhubungan dengan pertanyaan kehidupan dan kebahagiaan manusia. Saya tidak ingin melupakan apa yang saya pelajari dari proyek ini, yaitu bahwa di luar sebuah prestise arsitek individual terdapat hal yang lebih besar, yakni broader world of joy.

Maternityhouse6

Image credit

Sumber :

www.world-architects.com