Reading Time: 5 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Indri-Juwono-Arsitek-dan-Traveler

Rooang.com | Apa yang biasa Anda lakukan jika berkunjung ke rumah adat, museum, masjid, candi, atau tempat-tempat peninggalan bersejarah lainnya? Apakah:

a. Sibuk selfie

b. Mengitari situs-situs tersebut dan diam memotret sebanyak-banyaknya

c. Mengamati detail dari dekat, memotret, sembari berbincang dengan pemandu lokal

d. Bingung, duduk-duduk, mengamati orang yang berseliweran

e. Silakan bikin jawaban sendiri

Nah, kali ini Rooang menyajikan wawancara dengan seorang arsitek cum traveler yang doyan baca buku. Dia adalah Indri Juwono yang juga seorang narablog di tindaktandukarsitek.com. Membaca balasannya melalui surel, cukup membuat Rooang merasa takjub. So insightful!

Simak, yuk!

Deskripsikan singkat tentang diri Mbak Indri.

Indri: Indri Juwono, kalau siang jadi arsitek, malam jadi blogger, weekend jadi traveler (kadang-kadang extend, sih). Beberapa tahun bekerja di konsultan, tahun lalu sempat freelance, tapi balik lagi ke dunia konstruksi awal tahun ini. Dulu kuliah di UI, Depok. Sekarang jadi architect engineer di perusahaan manajemen konstruksi di Jakarta.

image credit

image credit

Sejak kapan suka jalan-jalan?

Indri: Suka jalan-jalan sejak kecil. Karena keluarga tinggalnya berpindah-pindah kota, jadi setiap tinggal di kota tertentu akan mengeksplorasi tempat-tempat wisata yang menarik di situ. Waktu SMA dan kuliah makin intens jalan-jalan ke alam bebas dengan teman-teman, namun jatuh cinta pada destinasi permukiman. Mengobrol dengan orang-orang lokal di rumah -rumah yang mereka tempati itu seru.

Mengapa memilih jadi arsitek? 

Indri: Jadi arsitek itu cita-cita masa kecil, sejak kelas 5 SD. Dulu karena suka melihat bangunan-bangunan bagus, jadi kepengin jadi arsitek. Dan ternyata bertahun-tahun kemudian konsisten di cita-cita sampai memilih kuliah arsitektur. Walaupun lulusnya tersendat-sendat (maklumlah kuliah sambil jalan-jalan), tapi akhirnya bekerja sebagai arsitek juga.

Apakah seorang arsitek sudah pasti suka jalan-jalan?

Indri: Belum tentu. Beberapa teman arsitek juga tidak banyak jalan-jalan. Dan mereka tetap berkarya sebagai arsitek. Hanya mungkin ‘taste‘-nya yang berbeda. Namun walaupun tidak berjalan-jalan, sebelum mendesain pasti ‘berkelana’ dengan studi tipologi (perbandingan fungsi ruang) dengan bangunan yang berjenis sama dengan yang sedang didesain.

Apa titik temu antara arsitektur dan traveling? Bagaimana sinergi antara keduanya yang dirasakan oleh Mbak Indri sendiri?

Indri: Arsitektur itu bisa menjadi penanda, waktu ataupun tempat dengan hasil bangunan-bangunan yang punya ciri khas. Makanya dengan traveling dan melihat bangunan-bangunan yang ada bisa memperkaya pengetahuan kita, karena bisa melihat langsung, memperhatikan detail yang dipengaruhi oleh kelokalannya. Material-material yang berbeda juga memperlihatkan kekayaan alam yang (seharusnya) ada di sekitar itu. (Karena beberapa material alami sekarang susah didapat, sedih yaaa).

Untuk bangunan yang lebih modern, sama bisa dilihat sebagai penanda waktu dibangunnya. Setiap masa punya style-nya sendiri seperti tahun-tahun dibangunnya lho. Beberapa ciri bangunan gedung tahun 80-an, 90-an, 2000-an di Jakarta saja ada cirinya. Tahu kan bagaimana mudahnya kita mengenali bangunan yang dibangun masa Hindia Belanda? Karena style-nya yang khas itu.

image credit

image credit

image credit

Seperti kata Gede Kresna di salah satu tulisan Mbak di blog, kenapa tidak menulis dan membuat arsitektur jalan-jalan, daripada berkutat di kota sebagai arsitek?

Indri: Hmmm… Jalan-jalan masih merupakan aktivitas rehat buatku, jadi kalau ini nanti dijadikan kegiatan utama, masih belum tahu  membagi pikirannya gimana. Takut malah capek. Tapi pemikiran ke situ selalu ada, entah kapan, ya. Jadi sebagai arsitek adalah kegiatan yang menguatkan otak kiri, dan jalan-jalan sambil nulis untuk otak kanan. Menyeimbangkan fungsinya saja, heheu.

Tapi jalan-jalan arsitektur selalu menyenangkan untuk dicoba, dan keinginan jalan2 untuk mengeksplor arsitektur nusantara, atau kota-kota yang unk selalu ada. Selalu ada ciri lokal yang menarik untuk diintip. Bahkan kalau sudah lebih global pun tetap menarik.

Daerah atau kota mana di Indonesia yang menurut Mbak Indri memiliki kekayaan arsitektur paling banyak? Kenapa?

Indri: Semua tempat di Indonesia memiliki kekhasan masing-masing. Aku sih belum ke banyak tempat, tapi tahun lalu ke NTT, itu kekayaan arsitekturnya luar biasa. Banyak sekali desa-desa adat dengan tipe pemukiman masing-masing yang disesuaikan dengan lokasinya. Contonnya di daerah Ngadha, sekitar Bajawa, desa-desa yang menghadap gunung Inerie. Kosmologis yang masih kuat di situ, masih ada upacara-upacara dll dan pembagian ruang-ruang dalam yang mengikuti ajaran kepercayaan mereka.

Selain itu di Sumatera, bangunan adatnya juga bagus-bagus. Kalau di NTT yang kepulauan rumahnya kecil-kecil, di Sumatera pulau besar rumahnya besar-besar. Ini kebetulan atau bagaimana ya? Tapi ternyata begini kan? Rumah Batak Sumut, Rumah Gadang Sumbar, Omo Niha Nias, Rumah Limas Sumsel, Rumah Panggung Lampung, besar dan semuanya rumah panggung. Bangunan tunduk pada alamnya, dulu bangunan dibangun dengan material yang ada di sekitar, posisinya ditinggikan supaya terbebas dari binatang buas, yang mungkin banyak pada zamannya, atau memang bawah banyak dengan binatang peliharaan. Di pulau Samosir, bagian bawah rumah bnyak babi berkeliaran, yang mereka ternakkan.

image credit

image credit

image credit

Sebagai arsitek dan traveler, destinasi mana yang paling ingin Mbak kunjungi? 

Indri: Untuk di Indonesia, tentu saja semua daerah pemukiman adat, apalagi yang belum-belum. Tana Toraja Sulawesi, Rumah Suku Bajo di Wakatobi, Ternate, Papua, banyak deh, hahaha.

Kalau ke luar negeri aku kepengen ke Barcelona, Spanyol. Kotanya cantik banget untuk arsitektur modern. Lebih jauh lagi kepengen ke Macchu Pichu, Peru. Tapi mahal ya, jauh. Peninggalan pemukiman di atas Macchu Pichu itu benar-benar menarik untuk dipelajari.

Saya baca di blog, Mbak ingin jadi urban planner, kenapa? 

Indri: Tanpa perencanaan yang baik, satu kota akan lari berantakan tidak punya arah, akibatnya tidak nyaman dihuni. Pola-pola kota yang tertata dengan baik, membuat kota punya orientasi, dan bisa menjadi daerah kunjungan yang menyenangkan kan? Apalagi ditambah dengan tata transportasi yang baik. Tapi, tetap unsur lokalnya harus dimasukkan supaya memiliki ciri khas tersendiri, bukan cuma sekadar logo atau tempelan saja. Contoh pola kota yang jamak di Jawa adalah adanya alun-alun, kawasan niaga di sisi tertentu. Di daerah-daerah lain pasti ada pola sendiri yang bisa dikembangkan, ambil dari kebudayaan lokalnya, bisa orientasi gunung, tempat berkumpul, atau lainnya.

Bagaimana caranya biar bisa menikmati arsitektur dari suatu bangunan di lokasi wisata? Ada tips terkait ini yang ingin Mbak bagikan ke pembaca Rooang? 

Indri: Aku selalu melihat dari unsur-unsur pembentuknya. Fasade yang khas daerah, ruang-ruang fungsi kegiatan kehidupan yang ada di dalamnya, apakah ada alasan tertentu terbagi seperti itu. Prinsip dasar kepala-badan-kaki bangunan yang pasti setiap tempat punya keunikannya sendiri bisa jadi analisis yang menarik. Material yang dipergunakan juga menunjukkan ciri kekayaan alam sekitar. Rumbia di Sumatera, Ijuk di jawa barat, genteng tanah liat di Jawa, ilalang di NTT, batu-batuan di Bali, dll. Dan berkomunikasi dengan penduduk lokal supaya bisa menggali tentang sejarah ruangnya lebih banyak lagi. Karena mereka yang tinggal dan menggunakan ruang rumah hidup ini sehingga paling tahu suasana dalamnya.

Love the locals!

image credit

image credit

image credit

image credit