Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
stasiun-tanjung-priok-2

Rooang.com | Pada tahun 1914, Indonesia masih berada pada masa penjajahan Belanda. Pada masa Jenderal A.F.W Idenburg yang berkuasa di tanah Batavia, pemerintahan setempat membangun stasiun yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok di utara dengan kota Batavia (Jakarta) di selatan.

Saat itu, Pelabuhan Tanjung Priok merupakan simpul perdagangan yang paling ramai di Asia pasca dibukanya Terusan Suez. Keberadaan Stasiun Tanjung Priok tidak dapat dipisahkan dengan ramainya Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan kebanggaan masa Hindia Belanda saat itu. Bahkan, Stasiun Tanjung Priok berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda.

clip_image002_004Image credit

Stasiun yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Priok ini memiliki langgam bangunan art deco yang memang sempat populer pada akhir abad 18. Namun, menjelang abad 21, kondisinya makin tidak terawat.

Atap bangunan yang jadi saksi masa lalu kota Jakarta ini sudah terlepas di sana-sini. Kaca-kaca dan kerangka atap mulai lekang dimakan usia. Delapan peron di dalamnya sebagian sudah tidak terawat, bahkan di sisi baratnya dipenuhi tunawisma.

Kemunduran fisik Stasiun Tanjung Priok bermula ketika stasiun ini tak lagi berfungsi sebagai stasiun penumpang, tepatnya pada awal Januari tahun 2000. Pengebirian fungsi itu membuat pemasukan dana dari tiket peron semakin berkurang. Inilah yang menyebabkan PT Kereta Api menyewakan ruangan yang ada di depan bangunan stasiun.

Maka bagian depan stasiun pun terisi oleh kantor-kantor jasa seperti penjualan tiket kapal laut, pengiriman barang, hingga jasa penukaran uang asing, sebelum akhirnya PT Kereta Api Indonesia memutuskan membuka kembali stasiun Tanjung Priok sebagai stasiun penumpang pada tahun 2009.

Image credit

Image credit

Image credit

Renovasi yang dilakukan secara besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun itu bertujuan untuk menjaga kelestarian bangunan cagar budaya di Jakarta. Hingga pada Maret 2009 stasiun ini pun resmi dibuka untuk penumpang layaknya stasiun pada umumnya.

Namun, pemerintah setempat akhirnya mengalihkan penumpang ke Stasiun Pasar Senen. Alasannya adalah karena stasiun ini akan direncanakan sebagai stasiun barang.

297931Image credit

Sumber :

id.wikipedia.org