Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Rumah-Inang-1

Rooang.com | Tergiang. Mungkin itulah kata yang tepat yang dirasakan Redaksi Rooang yang baru saja berkunjung ke Rumah Inang-Inang. Nostalgia masa lalu disuguhkan sang pemilik rumah dengan sangat apik. Sang pemilik yang akrab disapa Bu Gusti ini memang tak punya background desainer interior. Namun kecermatan menata dan berburu barang-barang vintage untuk dekorasi rumah inang-inang, berhasil membuat tamu yang mengunjungi rumahnya terkesima.

Screen Shot 2015-05-30 at 9.19.34 AM

Image credit

Bu Gusti memang hobi jalan-jalan. Pantengin saja di instagram @bugusti saat weekend tiba. Ia pun punya tagar sendiri untuk mengarsipkan kegiatan jalan-jalannya, yaitu #bugustijalanjalan. Tapi bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa, Bu Gusti selalu menyempatkan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang menjual ‘rongsokan’ alias pasar loak. Segala sesuatu yang berbau jadul nan unik, tak luput dari pandangannya hingga segera pindah tangan kepadanya. Hasilnya, bisa kita nikmati saat berkunjung ke rumah inang-inang.

Rumah Inang 20

Rumah Inang 6

Rumah Inang 16

Rumah Inang 5

Sambutan hangat bagi setiap tamu Rumah Inang-Inang berhasil disuguhkan Bu Gusti pada dekorasi ruang tamunya. Mulai dari dekorasi letter box ‘hello’ yang bertengger di meja, sofa gelap dengan hiasan kain tenun hingga karpet plus bantal imut warna-warni. Kesan jadul, kuno, dan membosankan yang identik dengan vintage, berhasil ia hapus dan berganti dengan vintage yang ceria dan hangat. Tak lupa, ia tambahkan beberapa tanaman yang diaplikasikan pada media tanam yang tidak biasa, seperti teko dan cangkir. Barang dekorasi pun dibuat tak biasa, mulai raket tenis, telepon kuno, cangkir blirik, sampai radio tua.

Rumah Inang 7

Rumah Inang 17

Memasuki ruang tengah Rumah Inang-Inang, dekorasinya makin semarak. Furnitur jadul tampak pada lemari di sebelah kanan. Lemari jadul itu digunakan untuk menyimpan barang-barang jadul. Ada termos, teko dan cangkirnya, hingga jajanan khas tahun 70’an seperti permen cicak dan bagiak. Barang-barang tersebut tidak hanya difungsikan sebagai pajangan saja, terkadang Bu Gusti juga memakainya sesuai dengan fungsi aslinya pada saat-saat tertentu. Multifungsi dan multipurposes, bukan?

Rumah Inang 1

Unik, menarik, dan atraktif. Kesan inilah yang didapat saat memasuki Rumah Inang-Inang bagian tengah. Di bagian tengah inilah, memori dan ingatan Bu Gusti berkelana. Segala hal yang ia dapat dari hasil perburuan di pasar loak di kota satu dengan yang lain, ia pamerkan di sini. Kursi santai berwarna kuning terang memberi kesan ceria pada barang-barang jadul di sekitarnya.

Rumah Inang 2

Rumah Inang 3

Penggunaan ornamen-ornamen tak lazim, membuat interior Rumah Inang-Inang sangat menarik. Kerat-kerat botol soda bekas, disulap jadi tempat buku. Lalu ada sepotong jendela tua yang didapat dari Cirebon, kemudian diboyong ke Surabaya lantas dijadikan hiasan unik. Tangga lipat pun tak luput dari kreatifitas Bu Gusti, hingga kemudian dijadikan sebagai rak menaruh pajangan.

Rumah Inang 8

Rumah Inang 15

 

Rumah Inang 9

 

Rumah Inang 13

Rumah Inang 14

Bu Gusti tak mau repot merenovasi berat untuk interior rumahnya. Maka, untuk mengatasi dinding berwarna putih dan lantainya yang polos agar tidak membosankan, Ia memberikan karpet bercorak dan hiasan-hiasan dinding yang semarak. Tidak ingin hiasan yang mainstream dan itu-itu saja, Bu Gusti pun memanfaatkan daya upaya dan kreatifitasnya untuk menciptakan sendiri beberapa hiasan dinding yang sesuai dengan karakternya.

Rumah Inang 12

Rumah Inang 4

Rumah Inang 10

Puas melintasi masa di ruang tengah, Redaksi Rooang diajak untuk menyimak hobi lain dari Bu Gusti, menanam. Perempuan asal Medan ini memang tidak bisa diam begitu saja melihat barang-barang tak terpakai. Bu Gusti yang sering menyebut koleksinya adalah barang-barang ‘rongsokan’ ini kreatif dan sangat cekatan dalam memanfaatkan rongsokan. Lihat saja, kerat telur diubah menjadi meja, dan kaleng-kaleng bekas diubah menjadi pot untuk tanaman sukulen dan kaktusnya. Sehingga, barang rongsokan yang terkesan dekil dan kotor bertransformasi menjadi barang yang mempunyai nilai lebih. Tidak saja dapat mengurangi sampah, penghematan keuangan pun dapat tercapai. Menyenangkan, bukan?

Rumah Inang 11

Rumah Inang 19

Rumah Inang 18