Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
danang-pamungkas-pemenang-bravacasa-design-challenge-20151

Rooang.com | Danang Pamungkas, desainer muda kelahiran Tenggarong, Kalimantan Timur, berhasil memenangkan Bravacasa Design Challenge 2015. Lewat Koulture Chair, ia menyingkirkan ratusan karya desain yang masuk ke dewan juri yang terdiri atas: Giulio Cappellini, Miranty M. Lemy, Joshua Simandjuntak, Diana Nazir, Rina Renvile, dan Lisa Malonda. Sebagai ganjaran atas prestasinya itu, anak ke-5 dari 6 bersaudara ini pun akan diberangkatkan ke Milan, Italia, untuk mengikuti short course di Istituto Marangoni Design School. Keren sekali, bukan?

Nah, Rooang berkesempatan mewawancarai secara eksklusif lulusan Desain Interior Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini.

Simak, yuk!

danang pamungkas

Apa arti Koulture Chair?

Sebenarnya plesetan dari kata couture, sebuah teknik membuat pakaian yang muncul pertama kali di Perancis pada abad ke-18.

Dari mana dapat ide untuk mendesain Koulture Chair?

Idenya sendiri dari mesin tenun tradisional. Saya suka dengan konstruksi mesinnya.

Apa sebenarnya yang ingin kamu usung lewat Koulture Chair?

Dari desain kursi ini saya ingin mengkomposisikan 3 material yang berbeda karakter namun pada hasil akhir menjadi sebuah kesatuan, saling mengisi, semua sisi terlihat fungsinya.

Berapa lama yang kamu butuhkan untuk mendesain dan memproduksinya?

Sebenarnya konsep ini sudah lama saya buat, tapi butuh satu tahun lebih untuk memaksimalkan ide awalnya – kenyataannya memang tidak mudah bikin suatu produk. Kemudian untuk memproduksinya sendiri sekitar 1 bulan.

Di mana kamu memproduksinya?

Di Jogja, lebih tepatnya di daerah Sewon, Bantul. Di sana tempat saya menempuh pendidikan S1 Desain Interior. Di sana dikelilingi pengrajin furnitur yang ulet, saya bisa menemukan pengrajin ukir kayu, pemahat batu, dan masih banyak lagi jenis pengrajin di sana. Saya sadar Jogja memang pusat untuk berkarya. Terbukti banyak para pekerja seni atau seniman yang lahir di sana.

Apa kesulitan yang kamu hadapi?

Kesulitannya lebih kepada teknologi pembuatannya. Dari desainnya sendiri sudah bisa dilihat koulture chair adalah kursi bergaya modern, sedangkan teknologi alat yang dimiliki pengrajin masih standar. Ada dua pengrajin berbeda yang diperlukan untuk membuatnya. Pertama, saya harus berdiskusi dengan tukang kayu untuk menghitung berapa banyak kayu yang diperlukan, kemudian tukang las besi untuk membuat sambungan besi pada setiap sudut kursi, terakhir bagian alas dan sandaran dipintal seperti sebuah benang di atas mesin tenun. Agak ribet tapi itulah seninya berkarya. Makanya, saya memberinya nama koulture chair.

Mengapa kamu memilih Bravacasa Design Challenge ini untuk menampilkan Koulture Chair?

Saya melihat Bravacasa lebih mengutamakan ide dan konsep dalam menilai suatu karya, meskipun bentuk karyanya tidak bersifat marketable.

danang pamungkas

Seberapa besar ekspektasimu untuk menang di ajang bergengsi ini?

Pastinya setiap orang punya ekspektasi yang besar, tapi saya sendiri samar- samar dalam berekspektasi karena nggak pernah tahu maunya juri atau market itu yang seperti apa. Tapi, justru itu perasaan yang saya suka setiap kali membuat karya. Saya selalu deg-degan ketika melihat respon orang lain.

Pernah memimpikan menang dan dapat short course di Istituto Marangoni?

Pernah, tapi sekarang malah agak bingung sendiri dan di dalam hati “ternyata saya bisa.”

Apakah ini karyamu yang menang pertama kali dalam kompetisi desain?

Tahun lalu saya dapat ‘Silver Award’ dari Menpora untuk desain saya yang berjudul ‘Bilik Bambu’ pada Kompetisi Menpora Award – Indonesia Youth Interior Design Competition 2014.

Karya lain yang pernah kamu buat?

Kalau dalam bentuk produk jarang dan bisa dihitung jari, tapi sekarang lebih banyak membuat karya interior karena awalnya saya lulusanDesain Interior.

Siapa desainer favoritmu?

Kalau dilihat sekarang itu banyak desainer yang bisa menginspirasi. Saya juga bukan tipikal orang yang hanya terpaku pada satu gaya. Tapi, kalau sekarang disuruh menyebutkan, saya pilih Jaya Ibrahim dan Zaha Hadid. Benar-benar dua karakter yang berbeda, tapi bagi saya kedua orang itu bisa menginspirasi saya sekarang dalam berkarya.

Saya memfavoritkan Zaha Hadid bukan berarti saya mau membuat karya seperti dia, tetapi lebih kepada kagum dengan kiprahnya sebagai arsitek dunia yang berpengaruh di abad ini.

Dan, Jaya Ibrahim sendiri saya suka cara dia mengkomposisikan elemen-elemen pada sebuah ruang, terlebih saya sekarang banyak mendesain resort, villa dan rumah tinggal. Jadi, karya-karyanya merepresentasikan desain yang saya kerjakan sekarang.

Mengapa memilih tinggal di Bali sekarang?

Sebenarnya saya dulu maunya tinggal di Jogja, tapi ketika berkarir saya sadar apa yang saya mau tidak sepenuhnya bisa didapatkan di sana. Sekarang sudah 2 tahun di Bali saya nyaman dengan suasanya. Antara berkarir dan aktivitas sehari-hari bisa seimbang.

Apa moto hidupmu?

Kalau punya mimpi jangan balik tidur, tapi bangun dan berjuang :)

danang pamungkas

 

Biodata

Nama lengkap: Danang Dwi Pamungkas

Tempat, Tanggal Lahir: Tenggarong, Kalimantan Timur, 6 September 1991

Nama orangtua: Hafidz Anwar dan Nirmalayati Santi

Anak ke: 5 dari 6 saudara

Pendidikan: S-1 Desain Interior ISI Yogyakarta