Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
e1902e55d7b83ac30ed61306c8e1c27e

Rooang.com | Inovasi adalah kunci untuk bertahan di dunia yang serbakompetitif dan kolobaratif ini. Dari inovasi itulah, akan terus dilahirkan produk-produk yang bermutu. Tidak selalu baru, produk tersebut bisa jadi sekadar modifikasi. Meski demikian, apresiasi tetap layak diberikan pada mereka yang menghasilkan produk inovatif tersebut.

Bravacasa Design Challenge, salah satunya. Melalui event tersebut, talenta-talenta dari para desainer muda dicari. Tidak harus menawarkan produk siap pakai dan siap dimassalisasi. Namun, bertolak dari konsep ide yang gemilang dan punya prospek untuk dikembangkan lebih jauh, itu sudah menjadi nilai plus bagi peserta kompetisi.

Salah satu pemenang pada event itu adalah Frans Sihombing. Ia memenangkan kategori lighting melalui “Alas”, lampu dengan desain yang tak lazim. Sekilas melihatnya mirip dengan tirai bambu . Dan, ternyata memang dari tirai itulah Frans mendapatkan ilham.

“Inspirasinya sebenarnya datang dari hal sederhana, yaitu tirai-tirai bambu biasa yang sering kita temui di pasar ataupun rumah-rumah,” tuturnya. “Benda yang biasa kita temui dalam kehidupan kita, sebenarnya memiliki keindahan yang sering terlewatkan. Saya tertarik dengan hal itu.”

Memerhatikan tirai dengan tempias sinar yang menyusup di sela-selanya, membuat Frans berpikir, kenapa ia tidak meniru bagaimana ‘interaksi’ antara sinar matahari dengan bilah-bilai tirai bambu tersebut. Dari situlah tercetus gagasan untuk membuat produk untuk kategori lighting.

cc64ef4c3fbd046b050ee4229ede52b6image credit

99e208a92c393d851f2312691396b701image credit

Ia pun mulai bergerak. Dari kemunculan ide hingga pembuatan desain awal untuk diserahkan ke Bravacasa Design Challenge, Frans membutuhkan waktu seminggu. Setelah pengumuman seleksi pertama, panitia memberikan waktu sekitar dua minggu untuk membuat prototipe yang akan dinilai pada tahap semifinal.

“Waktu yang diberikan dapat dikatakan sangat pas-pasan mengingat desain yang saya buat tidak konvensional dan membutuhkan beberapa eksperimen. Bahkan, sampai hari H penjurian semifinal, sebenarnya prototipenya belum seratus persen selesai. Hahaha…” ujar Frans melalui surel.

Untung saja pada proses penjurian, performa lampu sesuai dengan yang ia harapkan. Para juri pun memberikan beberapa saran dan revisi. Ia pun diberi waktu sekitar sebulan untuk mewujudkan desain final tersebut. “Alas” pun jadi.

alas frans sihombingimage credit

alas frans sihombingimage credit

2115865d6d5e0eb245c9aaae24030b30image credit

alas frans sihombingimage credit

Menciptakan sesuatu bukanlah tanpa tantangan. Itu dialami pula oleh Frans. Ia mengerjakan sendiri secara manual ketiga lampu yang disertakan di event ini, mulai dari memotong kayu-kayu hingga bagian elektronikanya.

Meski harus berjibaku sendirian, namun Frans mengaku puas. Ia berani mengatakan bahwa desain lampunya ini memiliki kelebihan karena bisa dinikmati dengan berbagai cara, mengikuti bentuknya yang bisa diubah-ubah. Sekalipun Alas tidak sedang dihidupkan, namun paduan kayu maple dan sonokeling yang digunakan membuatnya tetap tampil indah.

“Bentuknya yang tidak konvensional serta kombinasi bahan-bahan yang digunakan memberi kesan, seperti kata Cappellini (Art Director Istituto Marangoni Design School, red), tradisional tetapi sangat modern,” ungkap mahasiswa ITB ini.

Frans yang saat ini sedang membuat workshop dan co-working space bernama Kertakes Studio, memang menyukai perpaduan modernitas dan tradisionalisme. Ia juga suka memberi ruang untuk kesenangan pengguna dalam tiap desain yang ia bikin.

“Saya suka bermain dengan kontras, misalnya hal analog dengan teknologi modern. Saya ingin desain saya menjadi objek yang benar-benar dikenal oleh penggunanya,” pungkasnya mantap.