Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
diana-nazir-bw

Rooang.com | Diana Nazir adalah salah satu desainer interior terkemuka di Indonesia. Banyak proyek interior yang telah ia tangani bersama timnya. Ia juga menjadi salah satu penggagas ICAD (Indonesia Contemporary Art & Design) yang merupakan pameran kolaborasi desain dan seni kontemporer terbesar. Selain itu, ia sering diundang sebagai pembicara dan juri dalam kompetisi desain. Ia pernah pula terlibat sebagai produser film “9 Summers 10 Autumns”.

Perjalanan karir perempuan kelahiran Jakarta, 27 September 1966 ini sungguh menarik disimak. Kendati desainer interior bukan cita-cita masa kecilnya – karena ia belum tahu bahwa profesi itu ada – namun ia sudah senang berinteraksi dengan permainan membuat ‘ruang’. Ia begitu gembira saat bermain-main dengan balok, lego, dan sejenisnya. Ia bisa larut dalam oret-oretan gambar yang ia bikin.

“Tanpa saya sadari, semua aktivitas kreatif masa kecil itu membuat saya tertarik pada tiap elemen proses desain, seperti space planning, memilih style, membuat komposisi warna, dan lain-lain,” tutur perempuan berparas keibuan itu.

Diana sendiri lahir dari rahim seorang kreator sejati. Ibunya memasak, membuat kue, menjahit baju, menata meja, dan melakukan rutinitas lainnya. Ia belajar secara alamiah dari kegiatan ibunya tersebut.

“Saya melihat proses desain di kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. “Dengan daily routine (Ibu, red) tersebut, saya sudah mengamati masalah dan problem solving dari kebutuhan gaya hidup kita sehari-hari dan bagaimana menata sesuatu menjadi lebih nyaman dan lebih indah.”

Rasa senang yang meluap-luap, ketertarikan yang besar, serta pengamatan jeli yang tumbuh sejak kecil semakin memantapkan Diana Nazir untuk berkecimpung di dunia kreatif. Ia pun memilih kuliah di Jurusan Desain Interior, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti. Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1990.

Sebagai lulusan baru, Diana mencoba meraup rupa-rupa pengalaman profesional dengan bekerja di PT. Heritage Indonesia. Ia bekerja selama setahun di sana. Ia banyak mendapatkan gemblengan, utamanya mengenai: etika disiplin profesional, jejaring, manajemen desain, juga international style design.

Diana Nazir 2sumber: jakartajive.com

Namun, sebagai artist, Diana juga memiliki idealisme yang tidak selalu sejalan jika ia berada di bawah ‘ketiak’ orang lain. Maka, pada 1992 ia mendirikan perusahaan sendiri, PT. Artura Insanindo. Ia menggandeng dua rekannya, Norman Alamsjah dan Dharma Prayoga.

“Hal yang paling menyenangkan adalah kita dapat melakukan apa yang kita cintai dengan adanya efek ekonomi yang baik bagi hidup kita,” katanya. “Di samping itu, kita bisa ‘belajar’ banyak dari bidang-bidang lain di luar bidang kita untuk memperkaya isi kepala kita.”

Diana mencontohkan. Saat mendesain hotel, ia mau tak mau harus memahami detail operasi sistem bisnis hotel. Begitu pula ketika ia mendapat tawaran mendesain kantor hukum, command centre, klinik, bank, maupun taman kanak-kanak.

Dalam menjalankan profesinya, Diana memegang prinsip bahwa desainer adalah problem solver, baik dari segi fungsi maupun estetika. Baginya, desain yang ‘berhasil’ adalah desain yang memberi kepuasan pada kedua belah pihak, baik desainer maupun klien. Bukan yang ‘bagus’ atau ‘jelek’.

“Pencapaian itu hanya bisa terjadi apabila kita dan klien dapat berkomunikasi dengan baik,” ungkapnya.

Bagi perempuan pengagum Jaya Ibrahim ini, ia selalu berusaha membuat ‘kekhususan’ pada tiap-tiap proyek yang ia garap. Baginya, gaya interiornya bisa apa saja, tapi ia akan menempatkan signature berupa special treatment yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Untuk itu, ia tidak pernah membuat superlativisme terhadap proyek-proyek yang ia kerjakan. Bahwa proyek A paling prestisius tinimbang proyek B dan seterusnya.

“Buat saya tidak ada yang ‘paling’. Tiap proyek mempunya tantangan yang berbeda, termasuk membuat hal-hal baru, seperti command centre, ataupun yang lebih spesifik, seperti: Islamic Centre atau boutique hotel.

Diana Nazir 1sumber: jakartajive.com

Diana membeberkan proses kreatifnya sebagai berikut. Ia selalu memulai dengan menyusun konsep yang dilengkapi riset kecil maupun besar. Ide-ide estetika bertumbuh seiring berjalannya proses tersebut.

“Ide tidak harus jauh-jauh. Kadang justru timbul dari lingkungan yang paling dekat. Biasakan melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya untuk memperkaya kemampuan visual kita,” katanya.

Ia menyarankan agar desainer selalu berusaha membuat kebaruan pada semua keputusan fungsi dan estetika.

“Setiap napas kita harus ada, mulai dari konsep sampai dengan masa produksi atau instalasi,” ujarnya.

Untuk para desainer muda, Diana menitip pesan agar belajar bersikap dan beretika profesional. Sebab, menjadi desainer adalah pekerjaan jasa, hubungan antarmanusia. Komunikasi yang baik, empati, dan wawasan yang luas sangat diperlukan.

“Dan, yang harus diingat adalah jangan berusaha mencapai sesuatu dengan instan,” pungkasnya.