Reading Time: 4 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
Grand-Mosque-Paris
Grande_Mosquée_de_Paris
La Grande Mosquée de Paris

Rooang.com | “I’ve seen you, beauty, and you belong to me now, whoever you are waiting for and if I never see you again, I thought. You belong to me and all Paris belongs to me and I belong to this notebook and this pencil.” (Ernest Hemingway)

Begitulah cara Hemingway mengungkapkan kecintaannya terhadap Paris. Paris, tak akan pernah habis untuk dijadikan bahan tulisan. Novel, puisi, cerita pendek, biografi, atau bahkan ulasan mengenai karya seni arsitektur di Paris pun mungkin akan menghabiskan ribuan halaman. Sungguh tak akan pernah habis! Anda menginginkan gaya arsitektur apa pun, ada di Paris. Dari mulai gaya romawi sampai gaya kontemporer.

Bagi orang muslim yang akan ke Paris dan mencari tempat untuk beribadah, jangan khawatir. Di Paris terdapat La Grande Mosquée de Paris atau  Masjid Raya Paris yang sangat artistik jika ditinjau dari sudut arsitektur. Lokasi di sekitar masjid tersebut pernah digunakan sebagai salah satu tempat syuting film pendek Quai de Seine yang termasuk ke dalam antologi film pendek Paris Je t’aime yang dirilis pada tahun 2006.

La Grande Mosquée de Paris dibangun pada tahun 1926 setelah Perang Dunia I berakhir sebagai hadiah dari pemerintah Perancis untuk para prajurit infantri muslim. Gaya arsitektur yang diadopsi  La Grande Mosquée de Paris adalah gaya mudéjar. Secara bahasa mudéjar adalah bahasa spanyol yang berakar dari bahasa arab mudajjan yang artinya kurang lebih ditaklukkan atau dijinakkan.

Istilah mudéjar tersebut awalnya bukan merupakan gaya arsitektur melainkan sebutan untuk orang-orang moor atau orang-orang muslim yang masih tinggal dan menetap di Andalusia (Spanyol) setelah periode gerakan Reconquista yang atau yang berarti perebutan kembali. Gerakan tersebut  berlangsung selama berabad-abad, yang diakhiri dengan perang Granada yang dimenangkan oleh pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella.

Istilah gaya mudéjar pertama kali diciptakan pada tahun 1859 oleh José Amador de los Rios, seorang sejarawan dan arkeolog Andalusia. Dia berpendapat bahwa gaya mudéjar dikembangkan di Sahagun, León, sebagai adaptasi dari motif arsitektur dan ornamen khususnya melalui dekorasi khas mudéjar yaitu dekorasi plester dinding dan material batu bata.

Ukiran Plester Dinding
Ukiran Plester Dinding

Gaya arsitektur ini adalah titik pertemuan budaya 3 agama yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Ditinjau dari segi bentuk-bentuk geometris, mudéjar tidak melibatkan penciptaan bentuk-bentuk atau struktur baru seperti yang dilakukan pada gaya gotik atau romantik, tetapi lebih kepada interpretasi gaya barat melalui pengaruh Islam. Seni dekorasi yang terdapat pada gaya arsitektur mudéjar banyak dipengaruhi oleh seni kaligrafi-kaligrafi arab yang beraliran kufic atau naskhi.

Kaligfari Kufic
Ukiran kaligrafi kufic di gerbang antara taman dan pelataran.

Karakter geometris Islam yang dominan terlihat sangat mencolok pada aksesoris-aksesoris bangunan yang menggunakan bahan keramik, batu bata, ukiran kayu, ukiran dinding, dan logam hias. Untuk memeriahkan permukaan dinding dan lantai, gaya mudéjar dikembangkan dengan pola ubin yang rumit. Di Spanyol sendiri, setelah arsitek muslim tidak lagi dipekerjakan dalam bidang arsitektur, ternyata elemen-elemen dekorasi Islam tetap dimasukkan ke dalam arsitektur Spanyol, sehingga memberikan penampilan yang khas. Yang semakin hari mudéjar menjadi identik dengan gaya khas bangunan Spanyol dengan istana Alhambra-nya yang merupakan salah satu peninggalan peradaban Islam di Spanyol.

alhambra13_cour_lions_f
La Cour de Lyon Istana Alhambra
4837641339_04d77044f7
Pelataran di kompleks Mosquée de Paris

Memang, walaupun tidak semewah dan semegah istana Alhambra, tapi jika kita memasuki kompleks masjid ini, kita seolah-olah seperti masuk ke dalam lingkungan istana Alhambra tersebut. Sebelum masuk ke ruang utama masjid, mata kita akan dimanjakan dengan sebuah taman dengan lantai keramik berwarna hijau toska. Kemudian selepas taman kita akan masuk ke sebuah lahan terbuka yang juga berlantai marmer. Dikelilingi oleh koridor bertiang-tiang marmer dan berdinding keramik dengan motif-motif lingkaran khas dekorasi Islam. Di tengah-tengahnya ada semacam air mancur.

Taman Mosquee de Paris
Taman Mosquee de Paris dan Menara Masjid

Di dalam ruang utama masjid, kita akan mendapati benar-benar dekorasi mudéjar dengan tiang-tiang pualam, keramik-keramik bermotif, ukiran-ukiran kayu kaligrafi arab di sana-sini plus lampu-lampu antik yang menggantung-gantung. Meriah tapi artistik.

Motif Keramik Mosquee de Paris
Motif Keramik Mosquee de Paris
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ruang Utama Masjid

Masjid ini juga memiliki menara. Menara yang terdapat pada La Grande Mosquée de Paris ini memiliki tinggi 33 meter yang juga berhiaskan ukiran-ukiran dinding dan dilengkapi dengan tempelan-tempelan keramik bermotif rumit. Masjid ini merupakan salah satu masjid dari 64 masjid di Perancis yang memiliki menara. Di Paris, Masjid ini menjadi sangat dihormati karena pada zaman Nazi, masjid ini pernah dijadikan tempat penampungan pengungsi Yahudi selama dikejar-kejar oleh Nazi.