Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
IMG_2555

Rooang.com | Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 memang telah berlalu. Dihelat lima hari, sejak 28 Oktober hingga 1 November 2015, lebih dari 100 penulis dalam dan luar negeri hadir. Baik sebagai moderator, panelis, peserta, peliput, atau sekadar beranjangsana. Seumpama magnet, begitulah UWRF. Ia menarik siapa pun yang cinta pada literasi. Apalagi ini salah satu festival sastra terbaik di dunia.

UWRF menawarkan ratusan acara menarik. Mulai dari acara bincang dan panel diskusi, lokakarya, lokakarya budaya, tur sepeda, demo masak, dan sebagainya yang serba berbayar. Hingga acara yang bisa didatangi secara gratis, seperti: Art Program, Children & Youth Programs, Book Launches, Film Screenings, Fringe events, dan lain-lain.

Khusus untuk program utama berupa diskusi panel dan acara bincang-bincang diadakan di empat venue, yakni: Neka Museum, Indus Restaurant, Taman Baca, dan Joglo @ Taman Baca. Antarvenue bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Apalagi antara satu acara dengan acara lainnya cuma berjeda 15 menit. Itulah alasan panitia UWRF memilih lokasi yang semuanya ada di Jalan Raya Sanggingan, Ubud ini.

IMG_2512Taman Baca, salah satu venue Ubud Writers and Readers Festival 2015

IMG_2519Joglo @ Taman Baca, salah satu venue Ubud Writers and Readers Festival 2015

IMG_2570

Salah satu pintu masuk menuju Taman Baca, venue Ubud Writers and Readers Festival 2015 yang mana peserta harus mengenakan entrance tag

Venue yang terbuka dari bahan bambu dan kayu berpadu dengan hijaunya lembah dan sawah yang terbentang. Semilir angin yang bertiup cukup mampu menepis suhu udara Ubud yang gerah. Duduk satu jam mengikuti sebuah diskusi panel, misalnya, takkan terasa. Apalagi jika topik yang digulirkan memang telah menjadi incaran peserta. Seperti yang saya hadiri, antara lain: Rebel with a Cause dengan pembicara Seno Gumira Ajidarma di Indus Restaurant, Papua yang menghadirkan Aprila Wayar dan Nia Dinata di Taman Baca, Making It yang mendatangkan salah satu penulis muda Rio Johan di Joglo @ Taman Baca, serta Eka, One to Watch yang menampilkan Eka Kurniawan di Neka Museum.

Taman Baca, misalnya. Dinding bagian belakang, depan, dan kanan terbuat dari jalinan bambu. Lantainya dari blok-blok paving semen berbentuk kotak. Sementara atapnya dari bahan jerami. Di atas kursi para hadirin tergantung lampu-lampu hias berbentuk bola dari bahan kertas putih. Sementara di sayap kiri dan kanan tergantung lampu LED dengan tudung kerucut berbahan bambu.

IMG_2511

IMG_2562

IMG_2542

IMG_2593

Sederhana memang. Namun, justru di situlah letak kekuatan venue ini. Kalau terlalu ramai dengan hiasan atau dekorasi, bisa jadi konsentrasi hadirin akan pecah. Bagaimanapun, mereka datang untuk menyimak diskusi panel yang berlangsung. Sesi hiburan mereka bisa nikmati di venue lainnya yang memang cocok dengan suasana tersebut, semisal restoran dan kafe.

Kalau kamu ingin merasakan atmosfernya langsung, mending niatkan dari sekarang untuk hadir di Ubud Writers and Readers Festival tahun depan.

Sampai jumpa di Ubud!