Reading Time: 3 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
masjid-demak

Masjid di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak masuknya Islam pada abad XV, masyarakat mulai membangun tempat ibadahnya. Sayangnya, tidak ada yang tahu persis mana tepatnya masjid pertama di Jawa, karena banyak pihak yang mengklaim masjid dari daerahnya sendiri.

Kini, kita bisa menemukan masjid dengan beragam gaya arsitektur, seperti model yang umum dengan kubah besar, masjid dengan pengaruh arsitektur Timur Tengah, sampai masjid-masjid bertema Tionghoa. Semuanya meramaikan nuansa ibadah para umat muslim di Tanah Air.

Tapi keberagaman dan keindahan itu tidak serta merta terjadi. Dahulu, masjid kuno di Jawa memiliki bentuk yang sangat sederhana, bahkan tidak memiliki dinding kayu. Ia hanyalah sebuah bangunan beratap dengan tiang-tiang penyangga atap dari kayu. Berikut ulasannya.

Awal mulanya di Jawa

Tidak ada yang tahu persis dari mana datangnya inspirasi masjid kuno di Jawa yang berbentuk sederhana. Beberapa peneliti dalam dan luar negeri sampai saat ini masih mengkaji hubungan arsitektur kuno masjid di Jawa dengan berbagai bangunan pada masa itu. Ada yang menyebutkan inspirasi bangunan berasal dari tempat sabung ayam seperti yang ada di Bali. Tapi pernyataan ini buru-buru dibantah oleh peneliti lainnya, lantaran tidak mungkin umat beragama Islam memilih tempat judi sebagai rumah ibadah.

Namun, sebagian besar peneliti berpendapat bahwa bentuk masjid kuno Jawa terinspirasi dari rumah adat Jawa itu sendiri. Bangunan berbentuk persegi dengan atap limas susun 3 yang konon katanya melambangkan tingkatan ilmu dan dasar keyakinan islam. Beberapa masjid kuno yang masih ada sampai sekarang adalah Masjid Demak, Masjid Si Pitung, Masjid Cirebon, dan masjid bersejarah lainnya yang di antaranya sudah dijadikan museum. Masjid-masjid kuno didirikan sejak awal tahun 1500an.

Masjid cirebon 1

Perkembangannya

Sejujurnya tidak ada perkembangan yang berarti dalam arsitektur masjid di Nusantara sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya. Menurut Wiyose Vedoseputro, hal ini dikarenakan gairah mencipta karya masyarakat belum muncul. Penderitaan akibat penjajahan lebih banyak menyita perhatian rakyat.

Namun demikian, tetap ada dinamika arsitektur islami di sini. Salah satu contohnya adalah Masjid Angke yang terletak di Jakarta (sekarang nama resminya adalah Masjid Al Anwar) memiliki perpaduan langgam yang unik. Gaya arsitekturnya memadukan antara budaya pribumi, Tionghoa, dan Eropa. Masjid yang didirikan sejak tahun 1761 ini juga sudah mulai dihiasi dengan ukiran bunga dan kaligrafi. Sementara itu, Masjid Si Pitung juga cukup unik dengan atap rendah dan pilar penyangga yang cukup besar.

masjid angke

Meski kurang berkembang, setidaknya ada beberapa ciri khas masjid kuno di Indonesia, khususnya Jawa, bila dibandingkan dengan masjid kuno dari negara lain.

  • Fondasi bangunan yang berbentuk persegi dan pejal (massive) yang agak tinggi;
  • Masjid tidak berdiri di atas tiang, seperti rumah di Indonesia model kuno dan langgar, tetapi di atas dasar yang padat;
  • Masjid itu mempunyai atap yang meruncing ke atas, terdiri dari dua sampai lima tingkat, ke atas makin kecil;
  • Masjid mempunyai tambahan ruangan di sebelah barat atau barat laut, yang dipakai untuk mihrab;
  • Masjid mempunyai serambi di depan maupun di kedua sisinya;
  • Halaman di sekeliling masjid dibatasi oleh tembok dengan satu pintu masuk di depan, disebut gapura;
  • Denahnya berbentuk segi empat;
  • Dibangun di sebelah barat alun-alun;
  • Arah mihrab tidak tepat ke kiblat;
  • Dibangun dari bahan yang mudah rusak;
  • Terdapat pant, di sekelilingnya atau di depan masjid;
  • Dahulu dibangun tanpa serambi (intinya saja).

Ciri-ciri tersebut menunjukkan kemandirian arsitektur pada masanya, yang berarti bahwa masyarakat tidak mengadopsi langsung gaya masjid dari Timur Tengah.

Lalu sejak kapan masjid di Jawa memiliki kubah dan menara?

Bentuk kubah pada masjid pertama kali ada pada Masjid Sultan Riau dari provinsi Riau yang dibangun sekitar pertengahan abad XIX. Di Jawa, masjid berkubah baru ada pada pertengahan abad XX atau sekitar tahun 1900an.

Menara masjid yang pertama kali ada yaitu menara Masjid Kudus yang dibangun pada awal abad ke-16. Menara ini cukup unik karena tidak ditirukan di bangunan masjid lainnya. Selain itu, menara ini juga memiliki bedug yang umumnya diletakkan di serambi masjid. Sumber lain mengatakan bahwa menara tertua adalah yang terletak di Masjid Sultan Banten.

masjid kudus 2

Pengaruh Islam baru muncul dalam arsitektur masjid di Jawa setelah memasuki periode 1900an. Pengaruh budaya Hindu masih sangat kuat sampai periode 1800an.

Sulit memang untuk mengetahui seperti apa tepatnya perkembangan arsitektur masjid di Indonesia, akibat keterbatasan sumber autentik dan informasi yang simpang-siur. Semoga informasi ini bisa menginspirasi dan menambah pengetahuan sobat Rooang semua.

 

1 COMMENT