Reading Time: 2 minutes
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5
Loading...
img_6334
Sumber: angki.files.wordpress.com

Gaya arsitektur kolonial di Indonesia seolah lekat dengan perjalanan panjang negeri ini dalam bingkai pembangunan menuju  kemerdekaan. Bangunan-bangunan bergaya kolonial banyak tersebar diberbagai kota di tanah air. Sebagai negara bekas jajahan bangsa Eropa dan Asia seperti Belanda dan Portugis serta Jepang, pengaruh gaya  arsitektur dari negeri Belanda, Portugis serta Jepang, cukup besar terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia. Bahkan tak jarang terjadi perpaduan diantara gaya Eropa dengan arsitektur tradisional Indonesia.

Sejarah Arsitektur Kolonial di Indonesia

Sejarah mencatat bahwa Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia diawali oleh bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia yakni Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk.

Lawang Sewu, salah satu bangunan kolonial. Sumber: candraditya.blogspot.com
Lawang Sewu, salah satu bangunan kolonial. Sumber: candraditya.blogspot.com

Kolonial dan Neo Klasik

Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW yang dikenal dengan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa: Gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada masa itu.

Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik dikenal dengan Indische Architecture, karakter arsitektur ini dapat dilihat seperti : Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang dan menggunakan atap perisai.

Sumber: hogronoe.blogspot.com
Sumber: hogronoe.blogspot.com

Pada tahun 1902 sampai tahun 1920-an, secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an yaitu menggunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan entablure).  Serta penggunaan Tower pada bangunan Pengunaan tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oleh bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang bulat, segiempat dan ada yang dikombinasikan dengan gevel depan. Serta penggunaaan Dormer pada bangunan. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah  seperti pemilihan bentuk ventilasi yang lebar dan tinggi, sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.